Mataram, FHISIP Unram – Sesi diskusi Sorot Kampus Merah (Sorot Kamera) FHISIP Unram menggelar kegiatan bedah buku “Babad Alas” pada hari Selasa, (19/5/26) lalu di Aula Prof Zainal Asikin, Gedung A FHISIP Unram. Acara ini menghadirkan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto selaku penulis buku ”Babad Alas” sekaligus sebagai pembicara utama dalam forum tersebut yang didampingi Ayu Riska Amalia, S.H.,M.H selaku moderator. Acara ini juga dihadiri Bupati Lombok Barat, H. Lalu Ahmad Zaini, Prof. Dr. Sukardi, M.Pd selaku Rektor Unram, Prof. Dr. Sitti Hilyana selaku Wakil Rektor 1 Bidang Akademik, Dr. Wira Pria Suhartana, S.H., M.H, selaku Dekan FHISIP Unram beserta jajarannya.

Terbuka untuk umum, acara ini dihadiri oleh sejumlah dosen, sejumlah perwakilan organisasi, serta mahasiswa. Prof. Dr. Sukardi, M.Pd selaku Rektor Unram hadir untuk membuka acara tersebut. Dalam sambutannya Ia mengungkapkan bahwa  forum bedah buku ini merupakan bentuk penegasan intelektual kampus sebagai laboratorium ilmu pengetahuan. Rektor Unram berpandangan, melalui acara ini civitas akademika dapat membedah teori kepemimpinan yang disandingkan langsung dengan pengalaman di lapangan.

Wamendagri Bima Arya Sugiarto menjelaskan bahwa filosofi judul buku Babad Alas diambil dari kisah pewayangan saat Pandawa Lima diberikan jatah wilayah hutan belantara, sementara faksi Kurawa menguasai berbagai wilayah lainnya. Yudistira menunggu di pinggir hutan, dan Bima bergerak menghancurkan segala rintangan yang mengganggu.

Lebih jauh Walikota Bogor 2 (dua) periode itu juga memaparkan buku Babad Alas bercerita tentang nilai ideologi. Setelah nilai ideologi ditetapkan, seorang pemimpin harus memiliki strategi matang untuk mengeksekusinya secara perlahan namun pasti. Dalam buku Babad Alas, strategi tersebut dirangkum ke dalam tiga poin utama:
1.Mencicil Harapan Warga: Strategi ini diwujudkan melalui program nyata yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan publik.
2.Merawat Dukungan: Kepemimpinan yang kuat memerlukan sokongan dari tiga elemen masyarakat, yaitu dukungan kelas menengah (seperti kelompok kampus dan ibu rumah tangga), dukungan akar rumput (kelompok anak muda), serta dukungan dari level elit (termasuk Presiden dan sesama kepala daerah).
3.Membangun Pasukan: Pemimpin harus mampu membentuk tim yang solid agar kinerja berjalan maksimal.
 Prof. Dr. Sitti Hilyana, M.Si selaku penanggap menyimpulkan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh seorang pemimpin pada akhirnya tidak hanya diukur dari bagaimana ia mengambil keputusan taktis, melainkan bagaimana keputusan tersebut mampu menjadi cerminan utuh dari nilai dan citra kepemimpinannya secara berkelanjutan.