Mataram, FHISIP Unram – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FHISIP Unram menggelar seminar pencegahan kekerasan seksual pada hari Senin (11/5/26) lalu di Aula Prof Zainal Asikin Gedung A FHISIP Unram. Acara ini dibuka oleh Dr. Lalu Saipudin, S.H.,M.H., selaku Wakil Dekan III FHISIP Unram. Dalam sambutannya Wakil Dekan III FHISIP Unram menegaskan bahwa FHISIP Unram akan mewujudkan kampus aman bagi civitas akademika. Lebih jauh Wakil Dekan III FHISIP Unram juga menegaskan bahwa FHISIP Unram akan bertindak tegas jika terjadi kekerasan seksual di lingkungan FHISIP Unram.

Mengusung tema ”No Rape Culture, Hancurkan Normalisasi, Bangun Keberanian”, BEM FHISIP Unram menggandeng Fitriani Hestiningsih Misa selaku moderator dengan Taufan, S.H.,M.H., dan Dr. Laely Wulandari, S.H.,M.H., dan Joko Jumadi, S.H.,M.H., selaku narasumber.

Dalam pemaparannya, Taufan, S.H.,M.H., selaku akademisi di bagian Hukum Pidana FHISIP Unram menguraikan ada beberapa faktor yang mengakibatkan terjadinya kekerasan seksual, diantaranya ketimpangan relasi kuasa, budaya patriarki dan objektifikasi, normalisasi kekerasan, dan faktor situasional.

Sementara Dr. Laely Wulandary, S.H.,M.H., selaku akademisi di bagian Hukum Pidana FHISIP Unram mengungkapkan bahwa korban mengalami posisi rentan dalam kekerasan seksual.

”Korban seringkali disalahkan, seolah pemerkosaan dianggap bagian dari realitas hidup manusia karena adanya kultur patriarki, konstruksi sosial, serta minimnya edukasi pada masyarakat kita”, ujarnya.
Lebih jauh Joko Jumadi, S.H.,M.H., selaku Ketua Satgas Pencegahan Penanganan Kekerasan di lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT) Unram menjelaskan bahwa korban pelecehan seksual ada di posisi sulit, sebab korban menganggap pelecehan seksual adalah aib, oleh karena itu banyak kasus pelecehan seksual yang ditutupi karena korban tidak berani melapor.