Mataram, FHISIP Unram – Kehilangan mangrove bukan hanya mempercepat krisis iklim, tetapi juga merusak daya tarik wisata bahari Nusa Tenggara Barat (NTB). Kondisi ini bukan hanya mengancam lingkungan, tapi juga lapangan kerja ribuan anak muda yang bergantung pada sektor pariwisata. Guna menjawab tantangan tersebut, Yayasan Partisipasi Muda jalin kerja sama dengan Prodi Sosiologi FHISIP Unram untuk mengadakan program Academia Politica pada hari Sabtu, (18/10/25) lalu bertempat di aula Prof Zainal Asikin, Gedung FHISIP Unram.
Academia Politica merupakan program pelatihan bagi generasi muda usia 16-24 tahun untuk memperkuat kapasitas dalam merancang kebijakan publik, khususnya terkait dampak perubahan iklim terhadap keberlanjutan sektor pariwisata. Peserta juga diarahkan untuk melakukan simulasi pembuatan kebijakan publik. Sebagai hasil akhir, peserta menyusun ringkasan kebijakan yang dirumuskan dalam forum diskusi kelompok.
Dengan mengusung tema “Wisata Toxic vs Wisata Berkelanjutan: Alam Rusak, Turis Pergi, Anak Muda Rugi?”, kegiatan ini menghadirkan anak muda NTB usia 16–24 tahun, perwakilan masyarakat adat, dan Dinas Pariwisata Provinsi NTB sebagai bagian dari upaya kolaboratif. Empat pembicara dihadirkan dalam program Academia Politica yang terdiri dari Neildeva Despendya P., Co-Founder dan Direktur Eksekutif Yayasan Partisipasi Muda dan Direktur Eksekutif Yayasan Partisipasi Muda, Raja Aditya Sahala S., S.Si., M.Si. yaitu Senior Scientist SORCE (Sustainable Oceanic Research, Conservation, and Education), Lalu Kesuma Jayadi (Perwakilan Badan Pemuda Adat Nusantara Provinsi NTB), Chandra Aprinova, M.P. (Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Provinsi NTB).
Dalam pemaparannya, Neildeva mengungkapkan bahwa anak muda memiliki peran penting dalam mendorong perubahan politik yang berpihak pada bumi. Partisipasi tersebut dapat dilakukan melalui jalur konvensional seperti advokasi dan dialog kebijakan, maupun jalur non-konvensional seperti micro-activism di media sosial misalnya dengan melakukan hal-hal kecil seperti demo di Roblox, memposting ulang terkait kegiatan Academia Politica, serta aktif menyuarakan pendapat atau kritik di sosial media.
Sementara Raja Aditya Sahala S., S.Si., M.Si., menyoroti dampak kerusakan terumbu karang.
“Menjaga terumbu karang berarti menjaga masa depan laut, pariwisata, dan kehidupan masyarakat pesisir. Diperlukan penguatan konservasi berbasis komunitas melalui edukasi, restorasi dan monitoring terumbu karang, rehabilitasi mangrove, serta aksi bersih-bersih pantai. Upaya ini tidak hanya membantu pemulihan ekosistem laut, tetapi juga memperkuat daya tarik wisata berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Pemerintah pusat dan daerah pun memiliki kewajiban hukum untuk melakukan rehabilitasi lingkungan laut, sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.” Tegas Raja.
Lebih jauh, Lalu Kesuma Jayadi menyatakan bahwa masyarakat Bayan memiliki aturan ketat tentang pohon mana yang boleh ditebang. Tradisi ekologi Suku Sasak merupakan bentuk kearifan ekologis yang menjadi dasar pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Sebagai penutup, Chandra Aprinova, M.P., menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTB memiliki tiga agenda besar Pembangunan, yaitu mengentaskan kemiskinan, memperkuat ketahanan pangan, dan mengembangkan sektor pariwisata. Dalam konteks ini, pariwisata berkelanjutan menjadi salah satu strategi utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif.