Mataram, FHISIP Unram – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan sivitas akademika Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Mataram pada 6 Juni 2026 lalu. Salah satu dosen muda Program Studi Ilmu Hukum, Ayu Riska Amalia, S.H., M.H., berhasil meraih Beasiswa Kemitraan Indonesia (BKI) untuk melanjutkan studi doktoral (S3) di TU Dresden (Technische Universität Dresden), Jerman.
Keberhasilan tersebut menjadi capaian penting, tidak hanya bagi Ayu Riska Amelia secara pribadi, tetapi juga bagi FHISIP Unram dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kapasitas akademik dosen di tingkat internasional.
Ayu menjelaskan bahwa dirinya mengikuti seleksi Beasiswa Kemitraan Indonesia (BKI), sebuah program pendanaan studi doktoral luar negeri yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Proses pendaftaran dibuka pada April 2026 dan dilanjutkan dengan tahapan wawancara yang dilaksanakan secara daring pada 20 Mei 2026.
“Program ini merupakan beasiswa untuk studi doktoral di luar negeri bagi dosen. Saya mengikuti proses seleksi sejak pendaftaran dibuka pada April 2026 dan kemudian mendapatkan kesempatan mengikuti wawancara pada tanggal 20 Mei 2026,” ujarnya.
Menurut Ayu, keberhasilannya tidak terlepas dari pengalaman yang diperoleh sebelumnya melalui Predoctoral Course Program (PDCP) di TU Dresden, Jerman, yang juga didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi. Program tersebut memberikan kesempatan baginya untuk mengenal secara langsung lingkungan akademik universitas tujuan sekaligus memperdalam rencana studi doktoralnya.
“Melalui PDCP, saya sudah memiliki gambaran yang cukup jelas mengenai topik riset yang akan dikembangkan, calon supervisor yang akan mendampingi, serta kultur akademik di TU Dresden. Pengalaman tersebut sangat membantu ketika mengikuti proses seleksi beasiswa,” jelasnya.
Pada program doktoralnya nanti, Ayu berencana menekuni kajian yang berada pada irisan antara hukum, hak asasi manusia, dan hukum digital, sebuah bidang yang saat ini berkembang pesat seiring meningkatnya transformasi digital di berbagai sektor kehidupan.
Ia menilai isu perlindungan hak asasi manusia di era digital menjadi tantangan global yang membutuhkan kajian akademik mendalam, terutama dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi, kecerdasan buatan, perlindungan data pribadi, dan berbagai persoalan hukum digital lainnya.
Meski telah memiliki persiapan yang matang, Ayu mengakui proses wawancara tetap menjadi tantangan tersendiri. Selain harus menghadapi rasa gugup, wawancara yang dilakukan secara daring juga menuntut kesiapan teknis yang baik.
“Wawancara dilakukan secara online, sehingga kendala seperti jaringan internet yang tidak stabil cukup membuat deg-degan. Di sisi lain, rasa gugup juga menjadi tantangan tersendiri karena tahapan wawancara merupakan bagian yang paling menentukan dalam proses seleksi,” ungkapnya.
Namun demikian, berkat persiapan yang matang dan pengalaman akademik yang telah dimiliki, Ayu mampu melalui seluruh proses dengan baik.
“Alhamdulillah, saya bisa mengatasi rasa gugup tersebut dan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara. Syukur, saya kemudian dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa,” tambahnya.
Keberhasilan Ayu Riska Amelia menjadi bukti bahwa dosen-dosen muda FHISIP Unram mampu bersaing pada level internasional. Capaian ini sekaligus memperkuat komitmen FHISIP Unram dalam mendorong peningkatan kualifikasi akademik dosen melalui berbagai program pengembangan kapasitas dan kerja sama internasional.
Diharapkan, keberangkatan Ayu untuk menempuh studi doktoral di TU Dresden tidak hanya memberikan manfaat bagi pengembangan karier akademiknya, tetapi juga membawa kontribusi signifikan bagi penguatan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di Universitas Mataram. Selain itu, keberhasilannya diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi dosen-dosen muda lainnya untuk berani mengambil peluang dan berkompetisi dalam berbagai program pengembangan akademik di tingkat global.







