Mataram, FHISIP Unram – Mahasiswa FHISIP Unram kembali menorehkan prestasi di kancah nasional. Kali ini ada 2 (dua) tim dari prodi ilmu hukum FHISIP Unram yang berkompetisi di Nusantara Creative Competition. Tim pertama dipimpin oleh Tekar Cahya Isrami, Febriantina, dan Sastia Ningsih sebagai anggota. Ketiganya merupakan mahasiswa prodi ilmu hukum dan berhasil meraih silver medal di bidang pendidikan. Sedangkan tim kedua dipimpin oleh Natalia, mahasiswa prodi ilmu hukum yang beranggotakan mahasiswa dari prodi lain di Unram yang berhasil meraih silver medal di bidang pariwisata dan budaya. Sebagai informasi, Nusantara Creative Competition merupakan Kompetisi Esai Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Akprind Indonesia bekerja sama dengan Lembaga Setara Prisma Nusantara (Nusantara Muda). Ajang ini berlangsung pada tanggal 5-7 Juli 2025 di Universitas Akprind Indonesia, Yogyakarta.
Baik Tekar maupun Natalia membutuhkan waktu persiapan untuk berkompetisi dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Tekar mengakui bahwa timnya membutuhkan waktu 2 (dua) bulan untuk riset, penentuan tema, serta menyusun esai. Sedangkan tim Natalia juga membutuhkan waktu sebulan untuk menyusun esai.
“Tim saya memilih tema pendidikan karena setelah meriset data data bahwa angka putus sekolah di Indonesia ternyata masih tinggi, khususnya di Nusa Tenggara Barat. Dengan menulis esai tersebut dan solusi inovasi dari permasalahan yang kami hadirkan yakni edukasi digital melalui Virtual Reality Box dengan Virtual Learn UNTER (Unwanted Future) atau masa depan yang tidak diinginkan yang menampilkan video edukasi tentang kehidupan apa yang terjadi bila anak anak putus sekolah.” Ujar Tekar.
Sementara Natalia menjelaskan bahwa isu yang diangkat dalam esai berasal dari lingkungan sekitar.
“Kami memilih tema budaya dan pariwisata. Isu yang diangkat adalah permainan Manuq Kurung, yang mana permainan tersebut merupakan permainan tradisonal masyarakat Sasak yang sudah tidak dimainkan karena banyak digantikan oleh game online yang memiliki dampak negative ,mulai dari kesehatan fisik sampai dengan gangguan psikis. Berangkat dari isu tersebut, kami berinovasi untuk membawa kembali permainan ini ke sekolah dalam program Sabtu budaya. Nantinya program ini dilaksanakan setiap hari Sabtu, yang dimeriahkan oleh anak-anak yang berbaju adat saat mempraktikan setiap elemen budaya local. Ini bertujuan agar anak-anak lebih mengenal budaya lokal yang harus tetap dilestarikan.
Natalia mengaku bahwa ajang perlombaan ini menjadi pengalaman yang seru dan menyenangkan.
“Saya dapat tempat buat belajar sambil mengasah diri. Walau sempat gugup, tapi akhirnya ini menjadi salah satu pengalaman yang paing berkesan.” Ungkap mahasiswa semester 5 tersebut.