Mataram, FHISIP Unram – Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik Universitas Mataram kembali menorehkan prestasi membanggakan. Salah satu dosen muda terbaik, Ayu Riska Amalia, yang dikenal sebagai akademisi dengan keahlian di bidang Hukum Internasional, berhasil lolos sebagai peserta Pre-Doctoral Course Program (PDCP) dan akan menjalani program persiapan studi doktoral di TU Dresden University, Germany. Keberhasilan ini menjadi momentum penting, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi FHISIP Unramm dalam mendorong kualitas sumber daya dosen menuju standar internasional.
PDCP merupakan salah satu program non-degree unggulan DIKTI yang disiapkan untuk mendukung dosen Indonesia dalam mempersiapkan studi S3 di luar negeri. Program ini menjadi tahap penyelarasan awal baik dalam pemahaman akademik, kemampuan riset, maupun proses matchmaking dengan calon promotor di universitas luar negeri. Ayu Riska Amalia menjelaskan bahwa DIKTI menyediakan sejumlah program persiapan, seperti Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris (PKBI), Talent Scouting, hingga Predoctoral Course Program itu sendiri.
“Tahun lalu saya mengikuti PKBI, dan hasil IELTS dari program tersebut menjadi modal saya untuk mendaftar PDCP tahun ini,” ungkapnya.
Ia menuturkan bahwa pendaftaran PDCP dibuka pada bulan Juli, kemudian dilanjutkan dengan seleksi substansi berupa presentasi proposal riset doktoral dan wawancara pada bulan September. Pada awal Oktober, kabar bahagia itu datang: Ayu dinyatakan lolos seleksi nasional, dan TU Dresden, Jerman, resmi bersedia menjadi host PDCP untuknya.
“Jadi sebenarnya bukan kita yang memilih negara atau universitas tujuan. Pilihan diberikan kepada universitas yang bekerja sama dengan DIKTI,” jelasnya.
Program PDCP menjadi jembatan langsung menuju peluang beasiswa doktoral. Peserta yang terserap dalam program ini berkesempatan besar untuk memperoleh Beasiswa S3 DIKTI dan melanjutkan studi di universitas host, dalam hal ini TU Dresden, pada tahun 2026. Kegiatan PDCP sendiri akan dilakukan secara hybrid, dimulai dengan sesi online sebelum keberangkatan ke Jerman pada awal tahun.
“Harapan saya, kegiatan ini dapat berjalan lancar dan memberikan pengalaman yang berharga,” ujar Ayu penuh antusias.
Prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga inspirasi bagi dosen-dosen muda lainnya. Ayu berpesan bahwa peluang beasiswa luar negeri sebenarnya terbuka lebar, hanya saja banyak yang masih ragu untuk mencoba.
“Saya berharap lebih banyak rekan dosen berani mencoba kesempatan serupa. Sering kali kita hanya ragu, padahal peluang itu ada,” tegasnya.






