Mataram, FHISIP Unram – FHISIP Unram Kembali menggelar diskusi dalam kegiatan Sorot Kamera seri ke-3. Diskusi ini bertema “MENATA PEMBANGUNAN DAERAH DI TENGAH BAYANG-BAYANG KEJAHATAN DAN KEMISKINAN” yang diadakan di Ruang Vicon FHISIP Unram pada hari Rabu, 30 April 2025. Khairus Febriyan Fitrahadi, S.H.,M.H., dan Dr. Dwi Setiawan Chaniago, S.Sos.,M.A hadir sebagai narasumber dengan Taufan, S.H.,M.H., sebagai moderator. Kegiatan ini diapresiasi penuh oleh Dr. Lalu Wira Pria Suhartana, S.H.,M.H selaku Dekan FHISIP Unram sekaligus keynote speaker Sorot Kamera.

Dalam paparannya, Taufan menjelaskan bahwa Nusa Tenggara Barat (selanjutnya disingkat NTB) memiliki berbagai potensi daerah, yaitu pertanian, pertambangan, dan pariwisata. Dengan berbagai sektor unggulan, diharapkan Nusa Tenggara Barat dapat menekan angka kemiskinan. Tetapi berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angka kemiskinan di NTB dalam 3 tahun terakhir cenderung tidak stabil. Bahkan indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan di beberapa wilayah mengalami kenaikan.
Sementara data dari Kepolisian Daerah NTB menunjukkan bahwa kejahatan seperti pencurian dan penyalahguna narkotika juga mengalami kenaikan.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa jenis kejahatan yang lebih marak terjadi di NTB adalah crime of need (kejahatan karena kebutuhan) dibandingkan dengan crime of greed (kejahatan karena keserakahan).

Merespon isu ini, Dr. Lalu Wira Pria Suhartana, S.H.,M.H menyatakan bahwa potensi daerah harus diarahkan untuk kepentingan masyarakat.
“Saya ingin mengajak rekan-rekan semua yang hadir untuk berpikir secara kritis, bagaimana arah dan tantangan pembangunan daerah kali ini. Lalu bagaimana pentingnya kolaborasi interdisipliner, khususnya dalam hal ini prodi-prodi di bawah naungan FHISIP mengupas arah pembangunan daerah yang tidak mengabaikan masyarakat kecil.” Ungkapnya.

Sementara Khairus Febriyan Fitrahadi mengkritisi korelasi antara kejahatan, kemiskinan, dan Pembangunan.
“Tata kelola pemerintahan yang buruk berdampak pada meningkatnya kemiskinan dan kejahatan, serta terhambatnya pembangunan daerah.”

Dr Dwi Setiawan Chaniago turut melihat persoalan ini dari sudut pandang sosiologis. Menurutnya pembangunan di Indonesia masih terjebak dalam determinisme ekonomi yang korporat-sentris, dan mengabaikan pembangunan sosial. Akibatnya, muncul kesenjangan sosial dan kemiskinan struktural yang memicu kejahatan.
“Sejauh ini, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, lebih banyak memfokuskan pada pendekatan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan pertumbuhan pembangunan sosial sering kali diabaikan, karena dianggap tidak strategis. Padahal ini menyangkut permasalahan banyak orang.” Jelasnya.

“Semoga diskusi ini mampu mengajak Masyarakat dan stakeholder terkait untuk berpikir kritis dan menghasilkan ide yang solutif agar angka kemiskinan dapat lebih ditekan melalui Pembangunan daerah.” Tutup Taufan.