Mataram, Fakultas Hukum Unram –UKF Wapala FH Unram (Unit Kegiatan Fakultas Wahana Pencinta Alam Fakultas Hukum Unram) selenggarakan Diskusi Kebencanaan yang mengusung tema ’’Meningkatkan Kesadaran Mahasiswa Akan Potensi Bencana Alam’’. Diskusi ini diadakan di Ruang Sidang Utama FH Unram pada Sabtu (2/12/23) lalu. Arie Syahdi Gare, S.Hut (Ketua Wahana Pencinta Alam Provinsi NTB), Suhendra Maryandi (Badan SAR Nasional Provinsi NTB), dan Ani Ratnawati, S.T (Analis Pengurangan Resiko Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi NTB) turut dihadirkan sebagai pemateri.
Anggota UKF Wapala FH Unram, Safiya Dwi Aprilia mengungkapkan bahwa tujuan adanya Diskusi Kebencanaan adalah untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap potensi bencana di Provinsi NTB.
Paparan materi dimulai oleh Arie Syahdi Gare. Arie menekankan pentingnya etika dalam menjaga lingkungan sebab manusia dan alam adalah 2 (dua) hal yang tak dapat dipisahkan.
’’Jika manusia mampu memanfaatkan nilai ekologi, maka nilai ekologi dapat menghasilkan nilai ekonomi.’’ Papar Arie.
Arie juga menambahkan bahwa sudah ada beberapa organisasi non pemerintah (NGO) yang bergerak dalam pelestarian lingkungan dan berperan memberikan pertolongan saat bencana alam. Ia berharap kedepannya NGO-NGO tersebut menjalin kerjasama yang berkelanjutan dengan Badan SAR Nasional Provinsi NTB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi NTB.
Selanjutnya Suhendri memaparkan materi kedua. Suhendri menghimbau pada seluruh mahasiswa agar sigap hubungi nomor-nomor penting seperti nomor Basarnas, jika melihat bencana alam. Suhendri berpesan bahwa seseorang harus melindungi keselamatannya sendiri sebelum memberikan pertolongan pertama pada korban bencana.
Paparan materi ditutup oleh Ani selaku pemateri terakhir. Ani menjelaskan tentang mitigasi bencana. Ani juga menjelaskan bahwa mitigasi dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu mitigasi struktural dan mitigasi non struktural. Mitigasi struktural meliputi upaya pengurangan dampak bencana melalui konstruksi atau perubahan lingkungan fisik dengan mengaplikasikan solusi bersifat teknis, seperti penguatan infrastruktur tahan gempa. Sedangkan mitigasi non struktural adalah upaya dalam mengurangi risiko dengan cara memodifikasi perilaku manusia atau proses alam tanpa memerlukan struktur teknis.
Aswan Ihyanun Elfaruk, selaku ketua UKF Wapala FH Unram mengaku bahwa Diskusi Kebencanaan telah membuka wawasannya dalam melakukan mitigasi bencana. Aswan berharap semoga Diskusi Kebencanaan dapat memantik terbentuknya pos SAR mini skala fakultas dengan Wapala FH Unram sebagai pionir.

